belajar bahasa arab 2


Mashdar ialah isim manshub yang dalam tashrif-an fi'il jatuh pada urutan ketiga, seperti pada contoh:
Perlu diketahui, bahwa mashdar itu disebut juga maf'ul mutlak.

Mashdar itu ada dua bagian, yaitu mashdar lafzhi dan mashdar ma'nawi.
  1. Apabila lafazh mashdar itu sesuai (serupa) dengan lafazh fi'il-nya, maka disebut mashdar lafzhi, seperti pada contoh: (aku telah membunuh dia dengan sebenar-benarnya. Contoh lainnya seperti: = Aku telah membuka pintu dengan sebenar-benarnya; dan
  2. Apabila mashdar itu sesuai dengan fi'il-nya dalam hal maknanya saja tanpa lafazhnya, maka disebut mashdar ma'nawi, contoh: = (Aku telah duduk dengan sebenar-benarnya); dan (Aku telah berdiri dengan sebenar-benarnya).
Kata nazhim:

Lafazh yang (dalam tashrif-an fi'il) jatuh pada urutan ketiga, itulah mashdar dan di-nashab-kan dengan fi'il-nya yang muqaddar (diperkirakan).

Apabila mashdar itu sesuai dengan fi'il-nya yang diberlakukan dalam hal lafazh dan makna, maka disebut mashdar lafzhi.

Atau sesuai dalam hal maknanya saja dan telah disebutkan lafazh fi'il-nya tidak sesuai, itulah mashdar ma'nawi.

Maka lafazh adalah contoh mashdar lafzhi, sedangkan lafazh: contoh mashdar ma'nawi.



(Maful bih) ialah, isim manshub yang menjadi sasaran perbuatan (objek).
Maksudnya: Maf'ul bih menurut istilah ahli Nahwu ialah, isim manshub yang menjadi sasaran perbuatan pelaku, seperti dalam contoh:
= aku telah memukul Zaid.
Lafazh Zaid itu maf'ul bih, karena menjadi sasaran perbuatan, yaitu memukul.
Contoh lainnya seperti:
= aku telah menunggang kuda.
Lafazh kuda itu maf'ul bih, karena menjadi sasaran perbuatan, yaitu menunggang.

Maf'ul bih itu terbagi dua bagian, yaitu maf'ul bih yang zhahir dan maf'ul bih yang mudhmar. Adapun maf'ul bih yang zhahir telah dikemukakan penjelasannya, sedangkan maf'ul bih yang mudhmar (dhamir) terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu dhamir muttashil dan dhamir munfashil.

Yang dhamir muttashil ada dua belas macam, seperti dalam contoh (berikut):
  1. = dia (laki-laki) telah memukulku. Lafazh fi'il madhi, fa'il-nya mustatir (tidak disebutkan), taqdir-nya ; huruf nun-nya lil wiqâyah, sedangkan huruf ya-nya adalah ya mutakallim wahdah sebagai maf'ul bih;
  2. = dia (laki-laki) telah memukul kami atau kita. Lafazh fi'il madhi, fa'il-nya mustatir, taqdir-nya , dan huruf -nya adalah dhamir mutakallim ma'al ghair menjadi maf'ul bih;
  3. = dia (laki-laki) telah memukulmu (laki-laki). Lafazh fi'il madhi, fa'il-nya mustatir, dan huruf ka-nya adalah maf'ul bih.
  4. = dia (laki-laki) telah memukulmu (perempuan). Lafazh fi'il madhi dan fa'il-nya mustatir, sedangkan huruf ki-nya adalah maf'ul bih;
  5. = dia (laki-laki) telah memukul kamu berdua (dua orang laki-laki atau perempuan). Lafazh fi'il madhi dan fa'il-nya mustatir, sedangkan maful bih-nya adalah lafazh kumâ;
  6. = dia (laki-laki) telah memukul kamu sekalian (para laki-laki). Lafazh fi'il madhi dan fa'il-nya mustatir, sedangkan maf'ul bih-nya adalah lafazh kum;
  7. = dia (laki-laki) telah memukul kamu sekalian (para wanita). Lafazh fi'il madhi dan fa'il-nya mustatir, sedangkan maf'ul bih-nya adalah lafazh kunna;
  8. = dia (laki-laki) telah memukulnya (laki-laki). Lafazh fi'il madhi dan fa'il-nya mustatir, sedangkan huruf hu-nya adalah maf'ul bih; dhamir muttashil ditujukan untuk orang laki-laki yang ghaib;
  9. = dia (laki-laki) telah memukulnya (perempuan). Lafazh fi'il madhi dan fa'il-nya mustatir (tidak disebutkan), sedangkan huruf ha-nya adalah maf'ul bih; dhamir muttashil ditujukan untuk seorang wanita ghaib;
  10. = dia (laki-laki) telah memukul mereka berdua (dua orang laki-laki atau perempuan). Lafazh fi'il madhi, fa'il-nya mustatir, sedangkan lafazh humâ-nya berkedudukan sebagai maf'ul bih; dhamir muttashil ditujukan untuk dua orang yang ghaib;
  11. = dia (laki-laki) telah memukul mereka (para laki-laki). Lafazh fi'il madhi, fa'il-nya mustatir, sedangkan lafazh hum-nya berkedudukan sebagai maf'ul bih; isim dhamir muttashil ditujukan untuk para laki-laki;
  12. = dia (laki-laki) telah memukul mereka (para laki-laki). Lafazh fi'il madhi, fa'il-nya mustatir, sedangkan lafazh hunna-nya adalah maf'ul bih-nya; isim dhamir muttashil ditujukan untuk wanita-wanita yang ghaib.

Sedangkan yang dhamir munfashil pun ada dua belas macam, seperti dalam contoh (berikut):
  1. = kepadaku (ditujukan buat mutakallim sendirian);
  2. = kepada kami (ditujukan kepada mutakallim berikut teman-temannya);
  3. = kepadamu (ditujukan kepada seorang mukhathab);
  4. = kepadamu (ditujukan kepada seorang mukhathabah);
  5. = kepada kamu berdua (ditujukan kepada dua orang yang diajak bicara, baik laki-laki ataupun perempuan);
  6. = kepada kalian (ditujukan kepada para laki-laki);
  7. = kepada kalian (ditujukan kepada para perempuan yang diajak bicara);
  8. = kepadanya (ditujukan kepada seorang laki-laki sebagai orang ketiga);
  9. = kepadanya (ditujukan kepada seorang perempuan sebagai orang ketiga);
  10. = kepadanya berdua (ditujukan kepada dua orang laki-laki atau perempuan orang ketiga);
  11. = kepada mereka (ditujukan kepada para laki-laki orang ketiga);
  12. = kepada mereka (ditujukan kepada para wanita orang ketiga).
Kata nazhim:

Maf'ul bih itu ialah, isim yang di-nashab-kan yang menjadi sasaran perbuatan, seperti dalam contoh: (Berwaspadalah kalian kepada orang yang mempunyai sifat tamak).
Lafazh berkedudukan sebagai fi'il amar; sedangkan lafazh menjadi maf'ul bih.

(Maf'ul bih itu) mencakup maf'ul bih isim zhahir dan maf'ul bih isim dhamir. Adapun contoh bagi maf'ul bih isim zhahir telah dikemukakan.

Selain maf'ul bih isim zhahir (yaitu maf'ul bih isim dhamir) terbagi menjadi dua bagian lagi, yaitu berupa dhamir muttashil, seperti dalam contoh: (dia telah datang kepadaku); dan (dia telah datang kepada kami). Dan berupa dhamir munfashil.

Contoh dhamir munfashil, yaitu (kepadaku), atau (kamu telah menghormat kepada kami). (muliakanlah/ hormatilah kepada orang yang menghormati kita).

Kiaskanlah dengan kedua isim dhamir munfashil ini (iyyâya dan iyyânâ) setiap dhamir munfashil, dan kiaskanlah pula dengan kedua dhamir muttashil yang sebelumnya tadi setiap isim dhamir muttashil.
Maksudnya: Lafazh dan adalah dhamir munfashil, sedangkan huruf na yang terdapat pada lafazh adalah dhamir muttashil.
Contoh lainnya ialah: dan seterusnya.

Semua bagian dari kedua macam dhamir itu (muttashil dan munfashil) telah tercakup dalam dua belas macam lafazh dhamir yang masing-masing macamnya telah diungkapkan.

Ketahuilah, bahwa lâ nafi itu me-nashab-kan isim nakirah (tidak me-nashab-kan isim ma'rifat) tanpa tanwin (dengan syarat):
  1. bilamana lâ bertemu dengan isim nakirah (menjadi isim lâ) dan lafazh lâ tidak berulang-ulang. Contoh:
    = tiada seorang laki-laki pun di dalam rumah.
    Maksudnya: Tiada seorang laki-laki pun (meniadakan sama sekali); namanya Lâ linafyil jinsi. Jadi mafhum-nya:
  2. Kalau lâ itu tidak bertemu dengan isim nakirah, maka diwajibkan rafa' (sebab isim nakirah menjadi mubtada yang diakhirkan) dan lâ-nya wajib berulang-ulang, seperti dalam contoh: (di dalam rumah itu tidak ada laki-laki dan tidak ada pula wanita). yang 'amal-nya demikian itu, tidak meniadakan sama sekali.
  3. Kalau lâ itu berulang-ulang (serta bertemu dengan isim nakirah), maka dibolehkan mengamalkan lâ (yaitu me-nashab-kan isim nakirah) dan boleh pula membiarkannya (yakni, tidak me-nashab-kan isim nakirah).
Apabila kamu menghendaki, katakanlah (di dalam rumah itu tidak ada laki-laki dan tidak ada pula wanita); dan apabila kamu menghendaki, boleh kamu katakan (dengan memakai harakat dhammah pada lafazh rajulun dan imra'atun-nya).
Kalau lafazh dan di-nashab-kan, maka menjadi isim lâ yang beramal; dan kalau Iafazh di-rafa'-kan, maka menjadi mubtada dan lafazh sebagai khabar-nya, sedangkan lafazh lâ-nya di-ilgha-kan atau dibiarkan dan lafazh di-'athaf-kan kepada
Kata nazhim:

Hukum (ketentuan) lâ sama dengan ketentuan inna dalam hal mengamalkannya, maka nashab-kanlah dengan lâ bila isim nakirah bertemu dengannya. Tetapi bilamana lâ berulang-ulang, maka kamu harus memberlakukan huruf lâ, demikian pula dalam hal mengamalkan atau meng-ilgha-kannya.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka kalimat tersebut boleh dibaca:
  1. lâ beramal
  2. dengan meng-ilgha-kan
  3. beramal sebagian, dan
  4. di-ilgha-kan sebagian

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS