Mendahulukan dan membuang Musnad Ilaih dari Musnad

Mendahulukan Musnad Ilaih dari Musnad

Artinya:
"Ulama ahli ilmu Ma'ani mendahulukan musnad ilaih dengan maksud: 1.sebab asalnya; 2. mengukuhkan berita dalam hati pendengar; 3. sebab enak mendahulukannya; 4. memuliakan musnad ilaih".
Contohnya, seperti:
1.Sebab asal serta dianggap penting, seperti:
2. Mengukuhkan berita dalam hati pendengar, seperti kata sya'ir:
Artinya: "Adapun yang menggoncangkan daratan itu, ialah kejadian hidup baru bagi seluruh jiwa pada hari kiamat".
3. Karena enak mendahulukannya, seperti:
4.Mengagungkan, seperti:

Artinya: "5. Untuk menghinakan; 6. mementingkan; 7. darurat nadham atau sajak; 8. mengharap sempana/berekah; 9. mengkhususkan musnad ilaih bagi musnad; 10. untuk maksud umum kalau musnadnya menyertai hurul salah (nafi), sebab kalau begitu menunjukkan umum nafi (meskipun tidak berarti keseluruhannya, melainkan umumnya saja dan kebalikan dari umum nafi, ialah nafi umum, maksudnya menafikan keseluruhannya, tiada sebagianpun yang tidak manfi)".
5. Menghinakan, seperti:
6. Mementingkan, seperti:
7.a. Darurat nadham karena wazan, seperti:

Artinya: "Cukuplah saksi bagi kecintaanku kepadamu dengan hatimu, sebab hati itu saksi yang paling adil untuk diangkat saksi".
Dan firman Allah:
Artinya: "Tiadalah hati itu berdusta terhadap apa-apa yang ia pandang".
b.Darurat qafiyah (ujung bait), seperti:

Artinya: "Janganlah menipumu pakaian yang bersih itu, sebab dengan sabun dan airpun bisa bersih. Laksana telur yang rusak, kulitnya putih, akan tetapi di dalamnya bau seperti bangkai".
c. Darurat sajak, seperti:
Artinya: "Kataku: Kapankah bersua lagi wahai kekasih! Jawabnya: Jangan panik! sebentar lagi bisa berjumpa".
8.Mengharap berkah, seperti:
9. Menganggap keji, seperti: = Pebuatan keji itu di rumahmu.
10.Mengkhususkan musnad ilaih bagi musnad, yaitu terbagi atas:
a.Bila didahului huruf nafi, seperti: = Saya sama sekali tidak mengucapkan ini.
b.Kalau tidak didahului nafi, gunanya untuk tahshish, seperti: = Saya telah berbuat mengenai kebutuhanmu, bukan untuk orang lain.
c.Untuk menguatkan hukum, seperti: = Dia memberi barang yang berharga, atau seperti: = Kamu tidak berdusta. Kalimat ini lebih menguatkan hukum dari kata: , sebab kalau lafazh tekanannya pada kalimat , sedangkan pada lafazh pada lafazh . Yang demikian itu kalau musnad ilaihnya dengan isim ma'rifat dan musnadnya fi'il. Kalau musnad ilaihnya isim nakirah, dimaksudkan untuk mentakhshish jenis, seperti: atau dimaksudkan hanya seorang, tidak banyak dari laki-laki yang datang itu.
11.Untuk mengumumkan nafi, ialah bila lafazh "kullu" diidhafatkan kepada musnad ilaih dan musnadnya disertai nafi, seperti: = Seluruh manusia tidak berdiri. Yakni: seorangpun tiada yang berdiri. Kalau lafazh "kullu" didahului nafi, maksudnya untuk salab-umum menafikan umum, meskipun mengecualikan salah satunya, seperti sya'ir: Artinya: "Tiadalah setiap perkara yang diharapkan oleh manusia itu bisa tercapai, sebab anganpun suka bertiup dengan tidak sekehendak tukang perahu". Sebagian tercapai, sebagian lagi tidak.
Meskipun demikian, adakalanya angin itu bertiup sesuai dengan keinginan tukang perahu.


Membuang Musnad Ilaih

Artinya: Musnad ilaih harus dibuang, kalau:
  1. Sudah diketahui maksudnya oleh pendengar, seperti lafazh dalam menjawab: dsb.
  2. Mencoba ingatan pendengar, kuat atau tidaknya.
  3. Supaya mudah ingkar bila diperlukan, seperti kata orang ketika ada qarinah dimaksudkan kepada si A, supaya bilamana si A itu merasa tersinggung, mudah menolaknya dengan kata-kata tidak bermaksud kepada A, melainkan kepada orang lain.

    Artinya:
  4. Bermaksud menutupinya kepada hadirin selain mukhathab tertentu, seperti = Sudah datang, dengan maksud yang datang itu Zaid bagi orang yang telah sama-sama mengetahuinya.
  5. Karena tergesa-gesa, seperti kata orang: asalnya: dsb.
  6. Untuk mengagungkan dengan tidak menyebut namanya, seperti: = Yang menetapkan hukum syara' dan menjelaskannya akan dalil-dalil; dengan maksud: Nabi Muhammad SAW.
  7. Untuk menghinakan, seperti kata orang: = dengan maksudnya: syetan.
  8. Karena darurat nazham atau sajak, seperti: = Katanya padaku: Bagaimana keadaanmu? Jawabku: Sakit. Seharusnya: Atau darurat sajak, seperti: . Seharusnya: .
  9. Mengikuti penggunaan Bangsa Arab, seperti: = Lemparan tanpa pelempar. Seharusnya . Kata-kata tersebut, kata misal bagi orang yang mengerjakan sesuatu pekerjaan padahal bukan faknya.
  10. Selain itu musnad ilaih yang harus dibuang masih b++anyak lagi, diantaranya ialah khabar yang ditakhsis oleh atau seperti: . Takdirnya atau oleh seperti contoh dalam bait: "Sebaik-baiknya perjalanan, ialah perjalanan ahli Tasawuf yang menuju ke martabat yang mulia". Takdirnya:


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS