Keutamaan Orang Yang Miskin Harta



Hasil gambar untuk miskin hot

Menjadi Orang miskin ternyata mempunyai keutamaan tersendiri saat ia mau bersabar. Di sini juga jadi pertanda untuk orang yang kaya supaya jangan sampai yang kaya meremehkan mereka yang menjadi orang miskin.

Berikut tiga di antaranya:

1. Penghuni surga di Dominasi orang miskin


Dari Harits bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia berkata,
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli surga itu? Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong” (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
Orang yang lemah yang dimaksud adalah orang yang diremehkan orang lain karena keadaan yang lemah di dunia (alias: miskin). Ini cara baca mutadho’af dalam hadits. Bisa juga dibaca mutadho’if yang artinya orang yang rendah diri dan tawadhu’. Al Qadhi menyatakan bahwa yang dimaksud orang yang lemah adalah orang yang lembut hatinya dan tawadhu’. Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 168.

2. Berkah dari do’a orang miskin


Dalam hadits disebutkan bahwa Sa’ad menyangka bahwa ia memiliki kelebihan dari sahabat lainnya karena melimpahnya dunia pada dirinya, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR. Bukhari no. 2896).
Dalam lafazh lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.

“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” (HR. An Nasai no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Ibnu Baththol berkata, “Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyu’ karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain kecuali dekat pada Allah saja. Amalan mereka bersih dan do’a mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan)”. Al Muhallab berkata, “Yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sa’ad agar bersifat tawadhu’, tidak sombong dan tidak usah menoleh pada harta yang ada pada mukmin yang lain” (Lihat Syarh Al Bukhari li Ibni Baththol, 9: 114).
Pengemis Jalanan Bukanlah Orang Miskin

Karena rerata pengemis jalanan adalah orang mampu nan kuat yang malas bekerja, padahal di balik itu juga mereka kaya.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا

“Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak” (HR. Bukhari no. 1476).
Moga Allah beri kita taufik dan hidayah untuk semakin peduli pada orang-orang miskin, apalagi kerabat dekat kita.
Semoga bermanfaat.

3. Orang miskin mendahului orang kaya masuk surga


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

“Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Diterangkan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7: 68) sebagai berikut.
Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan,

وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47). Oleh karenanya, setengah hari di akhirat sama dengan 500 tahun di dunia.
Adapun firman Allah Ta’ala,
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun” (QS. Al Ma’arij: 4). Ayat ini menunjukkan pengkhususan dari maksud umum yang sebelumnya disebutkan atau dipahami bahwa waktu tersebut begitu lama bagi orang-orang kafir. Itulah kesulitan yang dihadapi orang-orang kafir,

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (8) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (9) عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ (10)
“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.” (QS. Al Mudatsir: 8-10).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nabi Khidir antara Hidup dan Mati







Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut.

Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!

Mengenai hidup atau wafatnya Khidir, orang-orang berselisih. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal.

Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.

Al-Allamah Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata, “Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Khidir sudah tidak ada di dunia adalah empat perkara; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ (kesepakatan) ulama’ muhaqqiqin, dan dalil aqliy”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 69)]

Hasil gambar untuk khidir

Di antaranya dalil-dalil itu:

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُو

“Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal”. (QS.Al-Anbiya`: 34)

Imam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauzy-rahimahullah- berkata, “Khidhir, jika dia itu seorang manusia, maka sungguh ia telah masuk dalam keumuman (ayat) ini tanpa ada keraguan. Seorang tidak boleh mengkhususkannya dari keumuman itu, kecuali dengan dalil yang shahih”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif]

Kemudian Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir-rahimahullah- menguatkan ucapan Ibnul Jauziy tadi seraya berkata, “Asalnya memang tidak boleh mengkhususkannya sampai dalil telah nyata. Sementara tidak disebutkan adanya dalil yang mengkhususkannya dari seorang yang ma’shum yang wajib diterima”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif ]

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا ءَاتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab,“Kami mengakui”. Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Al-Imran: 81)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata saat menafsirkan ayat ini, “Allah tidak mengutus seorang nabi di antara para nabi, kecuali Dia mengambil perjanjian padanya. Jika Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam- sedang nabi itu hidup-, maka ia (nabi itu) betul-betul harus beriman kepada beliau, dan menolongnya”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (1/565)]

Jika Khidir masih hidup, tentunya ia tidak boleh menunda-nunda keimanannya kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ia harus mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, berjihad bersamanya dan menyampaikan dakwah beliau. Ini merupakan perjanjian Allah kepada seluruh para nabi dan rasul sebagaimana yang tersebut dalam QS. Al-Imran ayat 81 di atas.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa wajib bagi seorang nabi dan rasul untuk menolong dan beriman kepada Rasulullah Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menegaskan bahwa andaikan Nabi Musa -’alaihis salam-, yang jauh lebih mulia dari Nabi Khidir masih hidup, maka ia harus mengikuti Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِيْ

“Andaikan Musa hidup, tentunya tidak mungkin baginya, kecuali harus mengikutiku”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/387), Ad-Darimiy dalam As-Sunan (1/115), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (5/2), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm (2/42), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (1589)]

Sudah dimaklumi, tidak ada satu pun riwayat shahih ataupun hasan -yang dapat membuat jiwa tenang- menyebutkan bahwa Khidir pernah bertemu dengan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula pernah ikut bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوْسَةٍ الْيَوْمَ تَأْتِي عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ حَيَّةٌ يَوْمَئِذٍ

“Tidak ada satu jiwa pun yang hidup pada hari ini telah lewat 100 tahun, sedang ia hidup pada hari itu”. [HR. Muslim dalam Shahih- nya (4/1966)]

Allamah Ibnu Baththal-rahimahullah- berkata menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memaksudkan bahwa dalam jangka waktu ini suatu generasi telah punah”. [Lihat Fathul Bari (1/256) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (11/41), “Sesungguhnya hadits ini termasuk dalil yang memutuskan tentang kematian Nabi Khidir sekarang”.

Andaikan Nabi Khidir masih hidup, tentu ia akan datang kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menyatakan keislamannya dan akan menolong beliau dalam berdakwah dan berperang membela Islam. Tidak mungkin ada seorang Nabi pun yang masih hidup, lantas tidak datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk berbai’at, menyatakan keislamannya, dan berjihad bersama beliau.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اَللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكَ هَذِهِ الْعِصَابَةُ لاَ تُعْبَدْ فِيْ اْلأَرْضِ

“Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Jihad, Bab: Al-Imdad bil Mala’ikah fi Ghazwah Badr (3/1383)]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy-rahimahullah- berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-). Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]

Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).

Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy -rahimahullah- berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]

Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]

Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]

Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy-rahimahullah- berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]

Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad -Shalallahu ‘alaihi wasallam-??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia.

ASAL USUL NABI KHIDIR

Dari beberapa riwayat ada beberapa pendapat tentang asal usul Nabi Khidir as, diantara riwayat tersebut adalah :

» Dari Asabath Ibnu Asakir mengatakan bahwa As-Sayyidi berkata: Dia (Khidir) adalah salah seorang putra raja, dia adalah pemuda yang taat beribadah kepada Allah Swt. Pada suatu saat dia melarikan diri dari istana, karena tidak mau dikawinkan oleh orang tuanya dengan seorang gadis pilihan orang tuanya itu dan setelah itu Khidir tidak pernah ditemukan lagi.

» Ditulis dalam kitab Al-Ifrad oleh Dariqutni dan Ibnu Asakir diriwayatkan oleh Ibnu Abbas : "Khidir adalah salah seorang anak cucu Adam yang taat beribadah kepada Allah Swt. dan ditangguhkan ajalnya."

» Ditulis dalam Fathul Bari Juz VI, Al-Bidayah dan Nihayah dan Ruhul Ma'ni Juz XV : Ibnu Khidir berasal dari Romawi dan orang tuanya berasal dari Persia.

» Kata Al-Alussi : Aku tidak membenarkan semua sumber yang menyatakan tentang riwayat asal usul Khidir, tetapi An-Nawawi menyebutkan bahwa Khidir adalah salah seorang putra raja.

Menurut sebagian riwayat mengatakan bahwa Nabi Khidir as adalah sebuah nama julukan yang diberikan kepada hamba Allah yang saleh, sedangkan nama Khidir yang dikisahkan dalam Al-Qur'an ada yang memanggilnya Khadir, Al-Khadir atau Al-Khidir. Ada beberapa riwayat yang mengatakan tentang beberapa kelebihan yang dimiliki oleh hamba Allah yang saleh dan beribadah sehingga hamba itu dipanggil dengan nama "Khidir". Diantara riwayat tersebut adalah :

1. Dari Ibnu Asakir dan para sahabatnya menyatakan dalam suatu riwayatnya: Bahwa hamba Allah itu mendapat gelar "Khidir", karena adanya perubahan warna kehijauan bila dia shalat disuatu tempat dan warna itu dapat menyinari tempat sekitarnya.

2. Dari salah seorang sahabat Nabi Saw. yang bernama Ikrimah meriwayatkan : Dia di gelari Khidir, karena bila dia duduk disuatu tempat maka cahaya itu menyinari tempat sekitar itu dengan warna kehijauan.

3. Dari As-Sayyid berkata: Apabila Khidir berdiri disuatu tempat (tanah lapang) yang gersang, maka tempat dimana kakinya berpijak akan ditumbuhi rumput yang masih segar berwarna hijau tinggi menutupi kedua kakinya.

4. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah Saw. bersabda : "Jika Khidir duduk diatas tumpukan jerami yang sudah kering, maka jerami tersebut akan berubah hijau kembali."

Sebaik-baik kisah adalah kisah di dalam al Qur’an. Adakah yang lebih indah perkataannya daripada Allah? Jawabannya tentu tidak ada. Karena semua firman-Nya adalah benar adanya, tak terkecuali kisah yang Dia abadikan dalam kitab-Nya, al Qur’an.

Kisah-kisah itu akan selalu memberikan pelajaran tak berkesudahan, semakin dikaji dan dipelajari semakin banyak hikmah dan pelajaran yang bisa didapatkan. Di antara kisah yang memesona kita adalah kisah Nabi Musa yang belajar kepada Khidhir, manusia biasa yang derajatnya di bawah Nabi Musa, karena beliau adalah seorang Nabi, bahkan termasuk salah satu dari Rasul ulul azmi yang lima.

Latar belakang yang membuat Musa belajar lagi, sekalipun beliau adalah seorang Nabi –sebagaimana dalam riwayat Ubay bin Ka’ab, dan tercantum dalam shahih al Bukhari nomor 4725- adalah ketika ada salah seorang dari kaumnya yang bertanya ketika beliau sedang berkhutbah, “Ayyu n-nâsi a’lam, siapakah manusia yang paling berilmu.” Lalu dengan pedenya Nabi menjawab, “Ana, saya.” Kemudian Allah menegurnya karena tidak mengembalikan ilmunya kepada-Nya, dan mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa di tempat pertemua dua lautan adalah seorang hamba shalih yang lebih berilmu daripada Nabi Musa.

Akhirnya, Nabi Musa bersama pembantunya, yaitu Yusya’, pergi mengarungi lautan, hanya untuk menambah ilmu yang tidak diketahuinya, sekalipun pada saat itu, posisi beliau sudah menjadi Nabi, dan termasuk Rasul ulul azmi. Adakah kedudukan lagi yang lebih tinggi dari itu?

Kisah perjalanan yang menakjubkan ini pun diabadikan oleh Allah dalam surat al Kahfi ayat 60 sampai 82. Hanya 23 ayat, tetapi pelajaran yang terkandung di dalamnya begitu berharga.

Berikut terjemahan surat al Kahfi ayat 60 sampai 82 tersebut :

18:60. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

18:61. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

18:62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.

18:63. Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”

18:64. Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

18:65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

18:66. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

18:67. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.

18:68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

18:69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun”.

18:70. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

18:71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

18:72. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”

18:73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

18:74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

18:75. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

18:76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

18:77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

18:78. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

18:79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

18:80. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

18:81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

18:82. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Faidah dan hikmah kisah Musa belajar kepad Khidhir


Lantas, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah dalam surat al Kahfi ayat 60 sampai 82 di atas? Banyak tentunya, berikut ini beberapa faidah penting yang berhasil penulis dapatkan dari Tafsir Taysir al Karîmi r-Rahmân fi Tafsîri Kalâmi l-Mannân, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin as Sa’di, dan ditahqiq oleh Abdurrahman bin Ma’la al Luwayhiq. Faidah-faidah berikut ini adalah terjemahan bebas dari penulis, dan apa yang ada di dalam syawlah, tanda kurung ( [ ] ) adalah komentar dari penulis. Semoga bermanfaat.

Inilah faidah dan hikmah yang terkandung kisah Nabi Musa belajar kepada Khidir ‘alaihimas salam :

Memulai dari yang paling penting. Menambah ilmu dan mengajarkan ilmu adalah perkara yang sama-sama penting namun menggabungkan keduanya akan lebih sempurna.

Bolehnya menggunakan khadim (pelayan), baik pada waktu mukim maupun safar, untuk membantu mencukupi kebutuhan.

Bila pemberitahuan kabar bahwa safar yang dimaksudkan untuk mencari ilmu, berjihad atau yang lainnya, itu mengandung maslahat maka hal ini lebih baik daripada menyembunyikannya karena ia akan mempersiapkan perbekalan dan melakukannya berdasarkan ilmu serta menampakkan kemuliaan ibadah yang agung ini sebagaimana perkataan Nabi Musa, { لا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا }

Menisbatkan kejelekan dan sebab-sebabnya kepada syetan yang selalu memoles dan menghias sedemikian rupa walaupun sebenarnya semua adalah takdir Allah Ta’ala. Ini sesuai dengan perkataan pemuda yang menemani Nabi Musa,{ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ }

Seseorang boleh memberitahukan perihal dirinya, baik itu rasa lelah, haus atau lapar selama ia jujur dan tidak menunjukkan perasaan jengkel [dan menggugat takdir Allah]. Ini berdasarkan perkataan Nabi Musa,{ لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا }

Disunahkan untuk mencari pembantu yang cerdas dan pintar sehingga ia bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Disunahkan bagi seorang tuan untuk memberikan makanan dari tempat makanannya, dan memakan bersama-sama dengan pembantunya. Karena dhahir dari firman-Nya, { آتِنَا غَدَاءَنَا }, menunjukkan bahwa mereka berdua, Musa dan pembantunya yang bernama Yusya’ makan bersama-sama.

Pertolongan akan turun kepada seorang hamba bila ia sudah melaksanakan sebab-sebab yang diperintahkan kepadanya.

Khidhir bukan seorang Nabi, tetapi hanya sebagai hamba yang shalih karena ia disifati sebagai hamba, dan diberi rahmat dan ilmu oleh Allah Ta’ala. Allah pun tidak menyebutkan risalah dan nubuwah Khidhir. Kalau betul ia seorang Nabi niscaya Allah akan menyebutkannya sebagaimana yang lainnya.

Ucapan Khidhir di akhir kisah, { وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي }, tidak menunjukkan bahwa ia seorang Nabi. Itu hanyalah ilham sebagaimana orang lain selain para Nabi seperti tercantum dalam firman Allah, { وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ } { وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا }

Ilmu yang diajarkan oleh Allah ada dua; ilmu yang didapatkan sesuai dengan usaha manusia, dan ilmu yang berasal langsung dari Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya [seperti firman Allah, “Wattaqullâha wa yu’allimukumullâh, bertakwalah kalian kepada Allah niscaya Dia akan mengajari kalian, maka berlandaskan pada ayat ini, para ulama memerintahkan kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, karena takwa merupakan sarana terpenting mendapatkan ilmu-Nya, tentu ini karena Dia lah yang akan langsung mengajarinya, tanpa perantara].

Adab seseorang yang ingin belajar adalah dengan berkata lembut kepada gurunya. Ini dicontohkan oleh Nabi Musa, { هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا }, Maknanya, Nabi Musa meminta persetujuan Khidhir; apakah beliau diizinkan untuk ikut atau tidak bila beliau ingin belajar darinya.

Ketawadhuan orang yang lebih mulia kepada orang yang berada di bawahnya, karena kedudukan Nabi Musa lebih tinggi daripada Khidhir.

Orang berilmu yang utama hendaknya mempelajari perkara yang tidak dikuasainya kepada ahlinya walaupun ia berderajat di bawahnya. Nabi Musa adalah rasul ulul azmi yang dikaruniai banyak ilmu namun dalam masalah khusus yang hanya diilmui oleh Khidhir, beliau bersemangat untuk mengetahuinya.

Menganggap ilmu sebagai karunia milik Allah dan bersyukur kepada-Nya atas karunia tersebut, Ini sesuai dengan firman-Nya, { تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ }

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menunjukkan kepada kebaikan. Hal ini sesuai dengan firman Allah, { أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا }

Orang yang tidak memiliki kekuatan sabar ketika bersahabat dengan ilmu dan orang yang berilmu akan melenyapkan banyak ilmu. Siapa tidak memiliki kesabaran, ia tak kan pernah mendapat ilmu. Sedangkan orang yang sabar akan mengetahui perkara yang ingin diketahuinya.

Sebab terbesar seseorang bisa sabar adalah ia menguasai ilmu terhadap perintah yang diperintahkan kepada kita untuk bersabar menjalaninya. Kalau dia tidak mengetahui tujuan, buah dan faedahnya maka ia belum mempunyai sebab sabar, sehingga dikatakan, { وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا }, bagaimana kamu bersabar sedangkan kamu tidak memiliki ilmu tentangnya? Jadi, tidak sabar itu ada karena tidak mengilmuinya.

Perintah untuk bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa, serta tidak langsung memvonis sehingga dia mengetahui duduk perkara permasalahan, dan juga tujuannya.

Berkaitan dengan masyi’ah (keinginan) seorang manusia terhadap masalah-masalah yang akan datang, hendaknya ia tidak mengucapkan, “Aku pasti akan melakukannya besok” tapi hendaknya ia berkata, “Insya’Allah” [kita juga belajar hal ini dari kisah ashhabul jannah, pemilik kebun, yang mendapati kebunnya terbakar habis karena niat hati ingin memanen tanpa berucap insyaAllah –lih. Surat al Qalam: 28, “Qâla awsathuhum alam aqul lakum law lâ tusabbihun” makna tusabbihûn dalam ayat ini, menurut Mujahid, as Sudi dan Ibnu Juraij yang disebutkan oleh Ibnu Katshir dalam tafsirnya adalah tastatsnûn, berucap insyaAllah].

Berazzam untuk melakukan sesuatu tidaklah menduduki perbuatan tersebut. Ini terlihat ketika Musa mengatakan, “{ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا }. Dia meyakinkan bahwa dirinya pasti sabar dan tidak bertanya tapi ternyata tidak demikian.

Seorang mu’allim boleh menghentikan muridnya untuk bertanya terlebih dahulu bila ditengarai ada maslahat di sana, seperti pertanyaan yang terlalu detail tentang masalah yang belum saatnya untuk diketahui atau belum bisa dinalar oleh muridnya, atau malah pertanyaanya tidak ada sangkut pautnya dengan pembahasan.

Bolehnya mengarungi lautan, bila yakin aman.

Orang yang terlupa tidak diminta pertanggungjawaban dan tidak dihukum; baik berkaitan dengan hak Allah, apalagi hak manusia berdasarkan firman Allah, { لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ }

Hendaknya seorang manusia memiliki sifat pemaaf dan toleransi antar sesama. Dan tidak membebani manusia di luar kemampuannya, atau pun memberatkan mereka.

Semua perkara itu dihukumi berdasarkan dhahirnya, termasuk urusan duniawi semisal masalah darah, harta, kehormatan dan yang lainnya juga berkaitan erat dengan dhahirnya.

Tentang anak kecil yang dibunuh oleh Khidhir juga mengandung kaidah agung dalam islam, yaitu memilih mafsadat yang lebih ringan. Terbunuhnya anak kecil tersebut adalah sebuah mafsadat; melayangnya nyawa jiwa manusia. Namun kalau dibiarkan hidup hingga dewasa, kelak ia akan memfitnah orang tuanya sehingga mereka murtad. Walaupun seandainya anak tersebut dibiarkan hidup terlihat seolah sebuah kebaikan namun keimanan kedua orang tuanya jauh lebih baik. [kaidah ini merupakan salah satu kaidah fikih terpenting ketika harus memprioritaskan salah satu dari dua pilihan, yaitu “Idzâ ta’âradhat mafsadatâni zûiya a’zhamuhuma dhararan bi r-tikâbi akhaffihima, apabila ada dua kerusakan saling berlawanan maka yang diperhatikan adalah yang lebih besar bahayanya dengan melakukan yang lebih ringan bahayanya”, dan kaidah “Yukhtâru ahwanu sy-syarrain, memilih keburukan yang paling ringan.”, dan juga kaidah, “adh dhararu l-asyaddu yuzâlu bi dh-dharari l-akhaff, bahaya yang lebih berat dihilangkan dengan bahaya yang lebih ringan. –terlebih menjaga dien lebih diutamakan daripada menjaga jiwa, dan juga yang lainnya baik akal, nasab (atau kehormatan) dan harta].

Ada kaidah agung, “Mempergunakan harta orang lain itu diperbolehkan bila mengandung maslahat dan menghilangkan mafsadat, walaupun tanpa izin pemiliknya dan itu mengakibatkan hilangnya (atau rusaknya) sebagian harta tersebut.” Sebagaimana yang dilakukan Khidhir ketika ia melobangi perahu orang lain agar tidak dirampas oleh raja yang zhalim. Oleh karenanya ketika ada yang kebakaran, sebagian rumah boleh dirobohkan bila dengan hal itu rumah-rumah yang lain bisa diselamatkan, bahkan ini disyariatkan.

Bekerja di lautan diperbolehkan sebagaimana bekerja di daratan sebagaimana firman-Nya, “Ya’malûna fi l-bahri, Mereka bekerja di lautan.” dan pekerjaan mereka tidak diingkari;

Orang miskin terkadang masih memiliki harta namun tidak mencukupi kebutuhannya. Nama miskin masih melekat padanya karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah orang-orang miskin yang masih memiliki perahu [dari sinilah, para ulama -semisal Ibnu Qudamah dalam al Mughni-, memberikan definisi tentang perbedaan nama fakir dan miskin. Menurutnya, fakir adalah orang yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan dan dia tidak mampu memenuhi kebutuhan kesehariannya, berbeda dengan miskin, miskin adalah orang yang masih memiliki pekerjaan tetapi tetap saja ia tidak bisa memenuhi kebutuhan kesehariannya];

Membunuh termasuk dosa besar, berdasarkan firman Allah tentang membunuh seorang anak, “La qad ji’tum syai’an nukran, engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar.”

Orang shalih akan dijaga oleh Allah, begitu pula dirinya dan juga anak cucunya [bahkan para mufassir menyebutkan bahwa kedua anak yatim tersebut adalah keturunan ke tujuh dari orang shalih, dan Allah menyebutkan, “Wa kâna abûhumâ shalihân”, dan sama sekali Allah tidak menyebutkan bahwa kedua anak yatim itu shalih];

Berkhidmat kepada orang-orang shalih atau yang semisal dengan mereka lebih utama daripada selainnya karena ia menjadi sebab harta pusaka dua anak yatim tersebut dikeluarkan dan dinding rumahnya ditegakkan, yaitu karena kedua orang tuanya adalah orang shalih;

Belajar beradab bersama Allah, yaitu dengan menisbatkan kejelekan kepada dirinya sendiri; seperti ucapan khidhir, “{ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا }. Sebaliknya, menisbatkan kebaikan kepada Allah seperti ucapan khidhir, { فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ } , dan ucapan Nabi Musa, “{ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ } , dan ucapan jin, { وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا } walaupun sebenarnya itu semua adalah takdir Allah Ta’ala.

Seyogyanya bagi seorang sahabat untuk tidak memisahkan diri dari saudaranya ketika ia melakukan sebuah kesalahan. Hendaknya ia bersikap toleran dan memberikan maaf sebagaimana Khidhir memaafkan Nabi Musa;

Persahabatan akan langgeng bila ada kecocokan, sebaliknya, persahabatan akan terputus karena tidak adanya kecocokan;

Tiga kejadian yang dialami Nabi Musa bersama Khidhir adalah murni takdir Allah melalui perantara hamba-Nya yang shalih. Itu semua dimaksudkan untuk mempelihatkan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah Maha Mampu menakdirkan sesuatu yang sangat dibenci manusia namun itu baik bagi diennya seperti halnya kisah ghulam yang dibunuh khidhir, dan Dia juga Maha Mampu menakdirkan sesuatu yang sangat dibenci manusia namun sebenarnya itu baik bagi dunianya seperti halnya kisah perahu yang dilubangi oleh Khidhir. Dua contoh ini menjadi pelajaran berharga agar kita senantiasa ridho dan menerima semua takdir-Nya [karena bagaimanapun, Dia yang lebih mengetahui kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, dan takdir-Nya adalah pilihan terbaik untuk mereka sekalipun menurut kaca mata manusia hal itu buruk dan sangat menyakitkan. Yakinlah!].

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SYEKH ABDUL QADIR AL - JAILANI


Bermula SYEKH ABDUL QADIR JAILANI yaitu ABU SHOLIH gelarnya ( dalam bahasa arab Kunyahnya), nama beliau adalah ABDUL QADIR bin MUSA bin ABDULLAH bin YAHYA AZZAHID bin MUHAMMAD bin DAUD bin MUSA bin ABDULLAH bin MUSA AL–JUN bin ABDULLAH AL–MAHDI bin HASAN MASTNA bin HASAN bin ALI bin ABI THOLIB RADIYALLAHU ANHUM AJMAIIN.
Beliau dilahirkan pada tahun 470 Hijriyah, pada saat Ibunya melahirkan SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI tiada dia menyusu pada siang hari Ramadhan dan pada suatu ketika tiada manusia melihat akan Hilal Ramadhan maka mereka datang kepada Ibu SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI untuk menanyakan apakah SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI menyusu pada siang hari, maka ibunya SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI menjawab tiada mencuncum hari itu akan susunya, maka nyatalah hari itu awal Ramadhan, maka mashurlah pada waktu itu telah lahir bagi keluarga AHLUL BAIT seorang anak yang tiada menyusu pada siang hari Ramadhan.
Pada suatu ketika ada seorang pemuda menanyakan kepada SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, bagaimana cara agar bisa selamat dari pada ujub (bangga) maka di jawab oleh SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI : barang siapa melihat ia akan sesuatu itu adalah dari ALLAH SUBHANAHU WATAALA, dan bahwa sanya ALLAH yang memberi taupiq untuk ber-amal, dan mengeluarkan dirinya daripada kenyataan maka sungguh selamat ia dari pada ujub (bangga)
Kemuadian di lain hari Pada suatu ketika ada juga seorang pemuda menanyakan kepada SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, apa sebab tiada kami lihat lalat jatuh atau hinggap di atas pakaian engkau, maka menjawab SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI karena tiada ada sesuatu disisiku dari kotoran dunia dan manisnya madu akhirat.
Dan adalah SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI membaca ia akan QUR’AN dengan segala macam Qiraat sesudah sholat jhuhur, dan berfatwa ia atas mazhab IMAM SYAPI’I dan IMAM AHMAD bin HANBAL, dan adalah fatwa SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI dilentangkan orang kepada ulama di IRAQ maka kagum mereka dan mereka berkata maha suci ALLAH yang member nikmat kepadanya.
Adapun Akhlak beliau adalah, bahwa berhenti ia beserta qadarnya (tidak sombong), dan beliau suka beserta anak – anak dan jariyah ( budak ) dan sekedudukan ia dengan orang – orang fakir serta membuangi kutu – kutu bagi pakaian mereka, dan beliau tiada berdiri selamanya bagi para pembesar dan pejabat Negara, dan tiada beliau menuju pintu / rumah wajir dan sultan (raja).
Setengah dari pada perkataan SYEKH ABDUL QADIR AL - JAILANI : apabila menetapkan akan kamu pada satu hal maka jangan engkau tuntut akan berpindah dari padanya kepada yang lebih tinggi atau lebih rendah, akan tetapi tunggulah oleh-mu sampai ALLAH SWT yang memindahkanmu dengan ketiadaan kehendak darimu.
Ini adalah sebagian karamah SYEKH ABDUL QADIR AL - JAILANI :
Kubah SYEHK ABDUL QADIR AL - JAILANI
1.  Pada suatu ketika datang seorang laki-laki dari kota baghdad, dan menceritakan ia bahwa anak perempuan dia diculik oleh bangsa jin, dan ia masih perawan, maka di jawab oleh SYEKH ABDUL QADIL AL-JAILANI : pergilah engkau pada malam ini ke sebuah reruntuhan bangunan di GARKHA dan duduklah engkau disisi tempat yang tinggi yang kelima kemudian garis olehmu lingkaran di tanah dan sebut olehmu ketika engkau menggaris < BISMILLAHI ALA NIYYATI ABDIL QADIR > maka apabila waktu isya meliwati akan engkau oleh jemaah para jin atas rupa-rupa yang bermacam-macam, maka janganlah engkau takut karena memandang akan mereka, dan ketika datang waktu sahur maka melewati akan raja jin beserta rombongan jin yang lain, maka menanya ia akan hajatmu dan sebutlah bahwa kamu di utus oleh SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI serta sebut akan perkaramu. Kemudian seorang laki-laki dari kota Baghdad tersebut langsung pergi sesuai apa yang diperintahkan oleh SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, maka berlalulah para jin beserta rombongan nya, akan tetapi mereka tidak dapat akan melalui dari pada atas duduknya, sehingga melalui akan raja jin beserta rombongannya dengan menaiki kuda, dan menanyakan kepada laki-laki tersebut apa hajatmu ? dan laki-laki tersebut menjawab : bahwa aku di utus oleh SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, maka turun lah raja jin beserta rombongan nya dari kuda serta mengucup raja jin serta rombongannya akan tanah, kemudian laki-laki tersebut menceritakan bahwa anak perempuannya diculik oleh bangsa jin, maka berkata raja jin kepada rombongannya : bawa kemari orang yang menculik anaknya, maka datanglah kepada laki-laki tersebut anaknya beserta jin yang nakal tersebut, maka berkatalah raja jin : ini adalah jin yang nakal dari jin bangsa cina, maka menanyai oleh raja jin kepada jin nakal tersebut : apa yang mendorongmu untuk menculik anak perempuan tersebut dari bawah tanggungan WALI QUTUB SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, maka menjawab jin nakal tersebut : bahwasanya ini perempuan jatuh dipangkuanku. Maka menyuruh raja jin kepada laki-laki tersebut untuk menyiksa jin yang nakal tersebut, maka laki-laki tersebut pun memukul akan penggulunya, dan menyerahkan jin yang nakal tersebut akan anak perempuan laki-laki itu, dan laki-laki itu pun berkata kepada raja jin : tiada aku lihat seumpama ini malam daripada menjungjungnya engkau akan perintah tuan SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, maka menjawab raja jin : ya benar, dan bahwasaya ALLAH SWT apabila mendirikan maka memberikan kehebatan / kewibawaan terhadap jin dan manusia (seperti ini tersebut dalam kitab hayatul hayawan, pada hurup jim disisi kalam pada bicara jin)
2.      Berkata SYEKH ADDAMIRI di dalam kitab hayatul hayawan : bahwasaya SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI duduk pada suatu hari memberikan nasehat dan angin bersengatan kencang, kemudian lalu atas majlis SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI se-ekor burung elang maka berteriak-teriak ia sehingga mengganggu atas hadirin akan apa yang mereka dengarkan maka berkata tuan SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI : wahai angin potonglah kepala burung itu, maka ketika itu juga jatuhlah burung itu dalam keadaan kepala terputus, kemudian SYEKH ABDUL QADIR Al-JAILANI turun dari kursinya mengambil burung tadi dan mengelus-elus sambil membaca <BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM>  maka burung itu hidup kembali dan terbang lagi dengan ijin ALLAH SWT. Dan kejadian itu disaksikan oleh orang-orang yang hadir dimajlis itu.
3.      Pada suatu hari datang seorang perempuan membawa anaknya kepada SYEKH ABDUL QADIR AL – JAILANI dan berkata ia, bahwasanya aku lihat anak ku ini bersengatan taalluk dengan engkau, dan sungguh aku keluar dari pada hak ku padanya, maka terima lah oleh mu akan anakku, maka menerima lah oleh SYEKH ABDUL QADIR AL – JAILANI dan menyuruh dia akan anak itu dengan bermujahadah (melawani nafsu) serta menjalankan ibadah sebagaimana dilakukan oleh ulama – ulama salap (terdahulu), dan pada suatu hari ibunya datang menghadap SYEKH ABDUL QADIR AL – JAILANI dan dia lihat anaknya kurus serta pucat mukanya dari pada bekas kelaparan dan berjaga malam, dan ibunya masuk mendapati anaknya sedang makan roti kasar, maka masuk ia ke kamar SYEHK ABDUL QADIR AL – JAILANI, dan melihat ia bahwa di dekat SYEKH ABDUL QADIR AL – JAILANI ada bejana yang berisi tulang – tulang ayam yang sudah dimakan, maka berkata ibu anak tersebut, wahai SYEKH engkau memakan daging ayam, sedangkan anakku memakan roti kasar, kemudian meletakkan SYEHK ABDUL QADIR AL – JAILANI akan tangan nya di atas tulang-tulang tadi sambil berkata : berdirilah dengan ijin ALLAH TA’ALA yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur. Maka berdirilah tulang-tulang itu kembali menjadi ayam dan ber – kokok : LAILAHAILLAH MUHAMMAD RASULULLAH SYEKH ABDUL QADIR WALIYULLAH. Kemudian SYEKH ABDUL QADIR berkata kepada ibu anak itu : jikalau anak mu sudah dapat berbuat seperti ini, maka boleh makan sekehendaknya.
Dan sebagian perkataan tuan SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI :
1.    wahai tuhanku bagaimana aku hadiahkan kepadamu ruh ku dan jiwaku sedangkan nyata dengan dalil bahwasanya semuanya milik bagimu.
2.  Waspadalah kamu dan jangan merasa aman, dan jangan kamu sandarkan akan diri kamu akan mempunyai hal dan perkataan, dan jangan kamu menduga bahwa diri kamu akan punya hal dan maqam, dan jangan kamu menceritakan sesuatu yang memberitahu akan kamu oleh Allah SWT dari pada segala hal, karena Allah SWT setiap hari pada perkaranya.
3.    Dan jangan kamu mengadukan kemudharatan yang menimpa dengan kamu bagi selain Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT yang artinya : dan jika mengenai Allah SWT akan engkau dengan kemudharatan maka tiada ada yang menghilangkan melainkan Dia.
4.  Takutilah bahwa engkau mengadukan kesempitan rizki sedangkan disisimu masih ada pemakan, maka kadang – kadang susah atasmu sebab rizki sebagai siksaan dari kekufuranmu.
5.      Bermula segala nikmat akan sampai kepadamu engkau tarik akan dia atau tidak, dan bermula segala bala dan ujian akan hasil denganmu sekalipun engkau benci, maka menyerahlah kamu kepada Allah pada keseluruhan, memperbuat Allah SWT akan barang yang Ia kehendaki, dan jika datang kepadamu akan nikmat maka berbimbanglah dengan mengingatnya dan mensyukurinya, dan jikalau bala yang datang maka hadapi dengan sabar, dan yang lebih tinggi dari keduanya adalah Ridha merasa Lezat dengan Qada Tuhan
Dan di dalam Thobaqat Syarnubi : dinamai SYEKH ABDUL QADIR dengan nama JAILANI, Karena  ALLAH SWT tajalli pada SYEKH ABDUL QADIR AL – JAILANI sedangkan beliau masih di dalam perut ibunya, sebanyak 100 kali, maka menamai oleh malaikat dengan JAILANI maka mendengar dengan dia oleh wali – wali maka menamai para wali - wali dengan nama tersebut,
Dan di wafatkan SYEKH ABDUL QADIR JAILANI pada tahun 561 dan di Maqamkan beliau dikota Baghdad

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berikut di bawah ini pangkat/maqam para aulia Allah




Para wali Allah

1. Qutub atau Ghauts (1 abad - seorang).

2. Aimmah (1 abad - 2 orang).

3. Autad (1 abad - 4 orang di 4 penjuru mata angin).

4. Abdal (1 abad - 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang apabila ada wali abdal yang wafat Allah menggantikannya dengan mengangkat wali abdal yang lain (Abdal = Pengganti ). Wali Abdal juga ada yang waliyahnya (wanita).

5. Nuqoba’ (Naqib), iaitu 1 abad - 12 orang diwakilkan Allah pada setiap bulan).

6. Nujaba’ (1 abad - 8 orang).

7. Hawariyyun (1 abad - seorang): wali Hawariyyun yang diberi kelebihan oleh Allah dalam hal keberanian, pedang (jihad) dalam menegakkan agama Islam di muka bumi ini.

8. Rojabiyyun (1 abad - 40 orang) yang tidak akan bertambah & berkurang apabila ada salah satu wali Rojabiyyun yang meninggal dunia Allah kembali mengangkat wali Rojabiyyun yang lain, dan Allah mengangkatnya menjadi wali khusus di bulan Rajab dari awal bulan sampai akhir bulan oleh sebab itu namanya Rojabiyyun.

9. Khotam (penutup wali; 1 alam dunia - seorang); iaitu Nabi Isa a.s. ketika diturunkan kembali ke dunia Allah angkat menjadi wali Khotam (penutup).

10. Qolbu Adam a.s. (1 abad - 300 orang).

11. Qolbu Nuh a.s (1 abad - 40 orang).

12. Qolbu Ibrahim a.s. (1 abad - 7 orang).

13. Qolbu Jibril a.s. (1 abad - 5 orang).

14. Qolbu Mikail a.s. (1 abad - 3 orang tidak kurang dan tidak lebih Allah selalu mengangkat wali lainnya apabila ada salah satu daripada wali qolbu Mikail yang wafat).

15. Qolbu Israfil a.s (1 abad - seorang)

16. Rizalul ‘Alamul Anfas (1 abad - 313 orang).

17. Rizalul Ghaib (1 abad - 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap-tiap wali Rizalul Ghoib ada yang wafat seketika itu juga Allah mengangkat wali Rizalul Ghaib yang lain. Wali Rizalul Ghaib merupakan wali yang disembunyikan oleh Allah dari penglihatan makhluq-makhluk bumi dan langit. Setiap wali Rizalul Ghaib tidak dapat mengetahui akan wali Rizalul Ghaib yang lain. Ada juga wali dengan pangkat Rijalul Ghaib dari golongan jin Mukmin. Semua wali Rizalul Ghaib tidak mengambil sesuatu pun dari rezeki alam nyata ini, tetapi mereka mengambil atau menggunakan rezeki dari alam ghaib.

18. Adz-Dzohirun (1 abad -18 orang).

19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 abad - 8 orang).

20. Khomsatur Rizal (1 abad - 5 orang).

21. Rizalul Hanan (1 abad -15 orang).

22. Rizalul Haybati Wal Jalal (1 abad - 4 orang).

23. Rizalul Fath (1 abad - 24 orang) Allah mewakilkannya di tiap sa'ah (jam). Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia - 2 Orang di Yaman, 6 orang di negara barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua jihat (arah mata angin).

23. Rizalul Ma'arijil 'Ula (1 abad -7 orang).

24. Rizalut Tahtil Asfal (1 abad - 21 orang).

25. Rizalul Imdad (1 abad - 3 orang).

26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun (1 abad - 3 orang). Pangkat ini menyerupai pangkatnya wali Abdal.

27. Rozulun Wahidun (1 abad - 1 orang).

28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz (1 abad - seorang).

Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini dilahirkan antara manusia dan golongan ruhani (iaitu bukan manusia murni). Dia tidak mengetahui siapa ayahnya dari golongan manusia. Wali dengan pangkat ini tubuhnya terdiri daripada dua jenis zat yang berbeza. Pangkat wali ini ada juga yang menyebut 'Rozulun Barzakh'. Ibu wali pangkat ini dari golongan ruhani air 'innalloha 'ala kullisay in qodirun' - "Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Maha Kuasa".

29. Syakhsun Ghorib (di dunia hanya ada seorang).

30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil 'Arsy (1 abad - seorang).

31. Rizalul Ghina (1 abad - 2 orang) sesuai dengan nama maqamnya (pangkatnya) Rizalul Ghina 'wali ini sangat kaya baik kaya ilmu agama, kaya ma'rifatnya kepada Allah mahupun kaya harta yang dijalankan di jalan Allah. Pangkat Wali ini juga ada waliahnya (wali wanita).

31. Syakhsun Wahidun (1 abad - seorang).

32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid (1 abad -10 orang).

33. Budala' (1 abad -12 orang). Budala' Jama' nya (Jama' Sigoh Muntahal Jumu') dari Abdal, tetapi bukan pangkat Wali Abdal.

34. Rizalul Istiyaq (1 abad - 5 orang).

35. Sittata Anfas (1 abad - 6 orang). Salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Rasyid, iaitu Syeikh Al-'Alim Al-'Allamah Ahmad As-Sibty.

36. Rizalul Ma' ( 1 abad - 124 orang). Wali dengan pangkat ini beribadahnya di dalam air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su'ud Ibni Syabil." Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku, "Apakah ada hamba-hamba Allah yang beribadah di sungai atau di lautan?" Belum pun sampai perkataan hatiku tiba-tiba dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata "Akulah salah satu hamba Allah yang ditugaskan untuk beribadah di dalam air". Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku dan tiba-tiba orang tersebut hilang dari pandanganku.

37. Dakhilul Hizab (1 abad - 4 orang).

Wali dengan pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama pangkatnya, wali ini tidak dapat diketahui kewaliannya oleh para wali yang lain sekalipun sekelas qutbil aqtob seperti Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani. Ia disebabkan wali ini ada di dalam hizabnya Allah. Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para aulia, Namun 'nur ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para aulia seperti yang diriwayatkan dalam kitab 'Nitajul Arwah' bahawa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jilani melaksanakan tawaf di Baitullah Mekah, tiba-tiba syeikh melihat seorang wanita dengan nur ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani mukasyafah ke lauhil mahfudz. Di sana dilihat nama wanita itu tidak ada di barisan para wali Allah.

Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Allah untuk mengetahui siapakah wanita itu dan apa yang menjadi amalnya sehingga nur ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat. Kemudian Allah memerintahkan malaikat Jibril a.s  untuk memberitahu kepada syeikh bahawa wanita tersebut adalah seorang waliyyah dengan maqam/pangkat Dakhilul Hizab - 'berada dalam hizabnya Allah'. Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa ber husnudzon (berbaik sangka) kepada semua makhluq Allah. Sebetulnya masih ada lagi maqam-maqam para aulia yang tidak diketahui oleh kita. Allah swt menurunkan para aulia di bumi ini dalam 1 abad - 124,000 orang yang mempunyai tugas masing-masing sesuai dengan pangkat atau maqamnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengenal Asal Usul Para Habib di Nusantara



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ASAL-USUL PARA WALI, SUSUHUNAN, SULTAN

Hasil gambar untuk para wali di




Nasab Para Pelopor Da’i yang Memasukkan Islam ke Pulau Jawa

Abu Salam Jumad gelar SUSUHUNAN ATAS ANGIN, bin Makhdum Kubra bin Jumad al-Kubra bin Abdallah bin Tajaddin bin Sinanaddin bin Hasanaddin bin Hasan bin Samaun bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zain al-Kubra bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Na’im gelar SUSUHUNAN WALI ALLAH, bin Abdul Malik Asfarani bin Husain Asfarani bin Muhammad Asfarani bin Abibakr Asfarani bin Ahmad bin Ibrahim Asfarani bin Tuskara, imam Yemen, bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN TEMBAJAT bin Muhammad Mawla al-Islam bin Ishaq gelar WALI LANANG DARI BALAMBANGAN, bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN GIRI bin Ishaq, gelar WALI LANANG DARI BELAMBANGAN (hal 15:3), bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Hasanaddin gelar PANGERAN SABAKINKING bin Ibrahim gelar SUSUHUNAN GUNUNG JATI bin Ya’qub gelar Sutomo Rojo bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

KIAHI AGENG LURUNG TENGAH bin Syihabuddin bin Nuraddin Ali bin Ahmad al-Kubra al-Madani bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN DRAJAT bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN BONANG bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN KALINYAMAT bin Haji Usman bin Ali gelar RAJA PENDETA GERSIK, bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Ibrahim gelar SUSUHUNAN PUGER bin Askhian bin Malik bin Ja’far al-Sadiq bin Hamdan al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN PAKALA NANGKA dari Banten bin Makhdum Jati, Pangeran Banten, bin Abrar bin Ahmad Jumad al-Kubra bin Abid al-Kubra bin Wahid al-Kubra bin Muzakir Zain al-Kubra bin Ali Zain al-Kubra bin Muhammad Zain al-Kabir bin Muhammad al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN KUDUS bin SUSUHUNAN NGUDUNG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN GESENG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN PAKUAN bin al-Ghaibi bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.
SUSUHUNAN KALIJOGO bin TUMENGGUNG WILO TIRTO, gubernur Japara, bin ARIO TEJO KUSUMO, gubernur Tuban, bin Ario Nembi bin Lembu Suro, gubernur Surabaya, bin Tejo Laku, gubernur Majapahit, bin Abdurrahman gelar ARIO TEJO, gubernur Tuban, bin Khurames bin Abdallah bin Abbas bin Abdallah bin Ahmad Jamal bin Hasanaddin bin Arifin bin Ma’ruf bin Abdallah bin Mubarak bin Kharmis bin Abdallah bin Muzakir bin Wakhis bin Abdallah Azhar bin ABBAS r.a. bin Abdulmuttalib.

Kerajaan-Kerajaan Islam yang Didirikan di Pulau Jawa, Keturunannya dan Tokoh-Tokoh Islam yang Ternama

1) Yang terpenting terdapat hingga kini adalah para sultan Cirebon, keturunan langsung dari SUSUHUNAN GUNUNG JATI. Hanya kepada para Alawi (Sayid) diperkenankan ziarah makam moyangnya. Belanda melarang gelar sultan digunakan.
2) Keluarga para sultan Banten, keturunan langsung dari seorang putra SUSUHUNAN GUNUNG JATI, dibuang oleh Belanda ke Surabaya. Suatu cabang dari keluarga para Sultan Banten adalah para Regen Cianjur, kedudukan mana ditetapkan pada tahun 1815.
3) Keturunan SUSUHUNAN KALIJOGO adalah para Pangeran Kadilangu dekat Demak, sedangkan keturunan SUSUHUNAN DRAJAT tinggal di atas tanah milik Drajat, sebesar lebih kurang 9 hektar dekat Sedayu; inilah yang merupakan sisa dari Kerajaan Drajat.
4) Sejarah keluarga BA-SYAIBAN: Pada permulaan abad ke XVIII datang dari Hadramaut ke Cirebon Sayid Abdurrahman bin Muhammad, dimana beliau menikah dengan puteri Sultan Cirebon. Kedua puteranya Sulaiman dan Abdurrahim memperoleh gelar KIAHI MAS, semula tinggal di Surabaya dan kemudian di Krapyak (Pekalongan). Suatu cabang dari keluarga ini menetap di Surabaya. Seorang putera dari Abdurrahim, bernama SA’ID, menikah dengan puteri RADEN ADIPATI DANU REJO, Pengurus Kerajaan Jogjakarta. Dari ketiga puteranya, yang tertua Hasyim bergelar RADEN WONGSO ROJO, yang kedua Abdallah bergelar hanya RADEN, sedangkan yang ketiga Alwi kemudian pada tahun 1813, menjadi REGEN MAGELANG dengan nama dan gelar RADEN TUMENGGUNG DANU NINGRAT I. Pada tahun 1820 beliau bergelar RADEN ADIPATI. Keturunan dari Hasyim dan dari Abdallah tinggal di Jogjakarta, dan beberapa dari mereka memangku jabatan-jabatan penting pada Ke-Sultanan. Pada tahun 1826, Hamdani bin Alwi yang menggantikan ayahnya sebagai Regen Magelang bergelar RADEN TUMENGGUNG ARIO DANU NINGRAT II. Pada tahun 1862 beliau diganti oleh puteranya Sa’id yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU (KUSUMO) NINGRAT III. Pada tahun 1879 beliau diganti oleh puteranya SAYID AHMAD BIN SA’ID yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU KUSUMO. Sayid Sa’id bin Hamdani balik dari haji (Makkah) pada tahun 1881, seorang sayid dari keturunan para pangeran Jawa kuna.
5) Sejarah keluarga pelukis masyhur RADEN SALEH. Namanya yang betul adalah Sayid Salih bin Husain bin Yahya. Neneknya Awadh datang dari Hadramaut ke Jawa pada permulaan abad ke XIX dan menikah dengan puteri Regen Lassem, Kiahi Bostam. Puteranya, Seyid Husain bin Awadh tinggal di Pekalongan, dimana beliau menikah dengan puteri Regen Wiradesa. Beliau memperoleh dua putera dengan gelar Sayid dan dua puteri dengan gelar Syarifah. Putera yang kedua bergelar pula RADEN. Seorang puterinya dinikahkan dengan Patih Galuh.
6) Suatu cabang dari keluarga BIN-YAHYA tiba di Pulau Pinang pada permulaan abad ke XIX juga, dan namanya TAHIR. Beliau menikah dengan seorang puteri dari keluarga Sultan Jogjakarta, Sultan mana dibuang ke Pulau Pinang selama 1812-1816.
Sayid Tahir datang ke Jawa tinggal di Semarang. Puteranya yang ketiga AHMAD RADEN SUMODIRJO yang kemudian tinggal di Pekalongan dan memperisterikan seorang syarifah dari keluarga BA’ABUD. Puteranya Seyid Salih bergelar RADEN SUMO DI PUTRO. Satu-satu puterinya menikah dengan seorang Seyid dari Hadramaut.
7) Keluarga AL-BA’ABUD: Seyid Ahmad bin Muhsin Ba’abud tiba dari Hadramaut di Pekalongan pada perrmulaan abad ke XIX, dan menikah dengan seorang puteri REGEN WIRADESA. Seorang anak cucunya Sayid Muhsin bin Husain bin Ahmad Ba’abud bergelar RADEN SURO ATMOJO. Saudaranya Ahmad bergelar RADEN SURO DI PUTRO.
8) Keluarga JAMAL-AL-LAIL. Di Priaman (Sumatra Barat) ada suatu cabang dari keluarga JAMAL-AL-LAIL, dan kepada para anggautanya penduduk memberi gelar SIDI.
9) Pada Kerajaan JAMBI, banyak terdapat anggauta keturunan BARAQBAH dan AL-JUFRI, begitu pula di Aceh, pun dari keturunan JAMAL-AL-LAIL.
10) Di Kesultanan Pontianak dan di Kubu, banyak sekali terdapat keturunan AL­QADRI, AL-AYDRUS, BA-ABUD, MUTAHHAR, AL-HINDUAN, AL-HABSYI, AL­HADDAD, AL-SAQQAF dan lain-lain Alawiyin. Semua ini bersanak-saudara dengan keluarga Sultan AL-QADRI. Sayid-sayid bergelar Wan, ringkasan dari Tuan, dan untuk wanita: Wan Ipa, ringkasan dari Tuan Syarifah.
11) Keluarga para Sultan Siak dan keluarga penguasa Palalawan adalah semua Alawiyin, begitu pua di Palembang. Keluarga-keluarga para Alawi yang terkemuka di Palembang adalah SYAIKH ABU BAKR, ALHABSYI, BIN SYIHAB, AL-SAQQAF, BARAQBAH, AL-KAF, AL-MUNAWWAR dan AL-JUFRI. Antara mereka ada yang berkeluarga dengan sultan-sultan dahulu. Banyak sekali terjadi percampuran darah antara keluarga-keluarga Alawi (Sayid) dengan para terkemuka Indonesia, seperti puteri Sultan dari Pulau Bacan.
12) Para sultan keturunan Alawi dari Siak, Palalawan, Pontianak dan dari Kubu namanya disebut dalam khotbah Jumahat. Pendiri kesultanan Siak adalah SEYID ALI BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dari Palalawan adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dan dari PONTIANAK adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN HUSEIN AL-QADRI.
13) Pendiri kesultanan SULU adalah SAYID ABUBAKR dari Palembang dengan gelar SULTAN SHARIF (orang-orang Sulu menyebutnya ASSULTAN ASSYARIF ALHASYIMI). Urutan para sultan adalah sebagai berikut: MAHARAJA UPU – PANGIRAN BUDIMAN – SULTAN TANGA – SULTAN BUNGSU – SULTAN NASIRUDDIN – SULTAN KARAMAT – SULTAN SYAHABUDDIN – SULTAN MUSTAFA gelar SAPIUDDIN – SULTAN MUHAMMAD NASARUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN I – SULTAN MUHAMMAD MU’IZZIDDIN – SULTAN ISRAIL – SULTAN ALIMUDDIN II – SULTAN MUHAMMAD SARAPUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN III.
14) Masuknya Islam dan terdirinya dynasti Islam di Sulu: 1380 – 1450.
*(No. 13 dan 14 dikutip dari THE HISTORY OF SULU oleh Najeeb M. Saleeby, Manila, 1963).
* Yang terurai di atas digali dari buku LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L’ARCHIPEL INDIEN par L.C.W. van den Berg, .Ouvrage publié par ordre du Gouvernement, Batavia, Imprimerie du Gouvernement, 1886/Museum Pusat, Jakarta, XXI/1387 & XXI/6076.

Silsilah Para Pemimpin Islam (Wali-Wali), Golongan Pertama yang Menyiarkan Agama Islam di Indonesia

1) JAMALUDDIN ALHUSAIN gelar WAJUK MAKASAR, bin Imam Ahmad Syah bin Amir Abdullah Khan bin Abdul-malik bin Alwi bin Muhammad Sahib Marbat bin Ali Khaliq Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Aluraidhi bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Bakir bin Ali Zainulabidin bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.
2) RADEN RAHMAT gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
3) MUHAMMAD AINUL YAQIN gelar SUNAN GIRI GRESIK bin Maulana Ishak Makhdum dari Pasei Malaka, bin Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK­TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
4) HIDAYATULLAH gelar SUNAN GUNUNGJATI-CIREBON bin Sunan Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
5) SYEIKH IBRAHIM gelar SUNAN BONANG di Tuban, bin Raden Rahmat gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
6) MAULANA MALIK IBRAHIM di Gapura-Gresik bin Barakat Zainul Alam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
7) BABULLOH gelar SUNAN TERNATE bin Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
8) ALI MURTADHO gelar RADEN SANTRI (BEDILAN GRESIK) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
9) AHMAD HISAM (dekat Lamongan) bin Raden Rahmat gelar Sunan Ampel (Surabaya) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
10) JA’FARUSSADIQ gelar SUNAN KUDUS bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
11) HASYIM gelar SUNAN DRAJAT LAMONGAN bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
* Siaran “Pengurus Makam Maulana Malik Ibrahim”, 1956
12) ZAINAL-ABIDIN (Demak) bin Ahmad Hisam bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
13) HASANUDDIN (Banten) bin Hidajatulloh gelar Sunan Gunungjati-Cirebon, bin Abdullah (Kamboja) bin Ali Nurul Alam (Siam) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.

Sejarah Singkat Tentang Peranan Alawiyin di Indonesia

KEPADAMU KU TITIPKAN AL-QUR’AN DAN KETURUNANKU……….. (Al-Hadith Rasulullah s.a.w. Dirawikan oleh Imam Ahmad Ibn Hambal).

a. PENDAHULUAN
Pada zaman kekhalifahan Bani Abbas (750-1258 M) berkembanglah ilmu pengetahuan tentang Islam yang bercabang-cabang disamping kenyataan itu penghidupan lapisan atas menyimpang dari ajaran agama Islam. Dibentuknya dynasti Bani Abbas yang turun-temurun mewariskan kekhalifahan. Istilah “muslim bila kaif” telah menjadi lazim. Hidupnya keturunan Sayidatina Fatimah Al-Zahra dicurigai, tiada bebas dan senantiasa terancam, ini oleh karena pengaruhnya anak cucu dari Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. atas rakyat sangat besar dan diseganinya. Ke-inginnan kebanyakan orang Muslim adalah seorang keturunan Nabi yang seharusnya memegang kekhalifahan. Banyak yang dipenjarakan dan dibunuhnya oleh karenanya banyak pula yang pindah dan menjauhkan diri dari pusat Bani Abbas di Baghdad.

AHMAD BIN ISA r.a.
Dalam keadaan sebagaimana di-uraikan diatas, yang pasti akan dikutuk Allah s.w.t., dan dengan hendak memelihara keturunannya dari kesesatan, mengulangilah AHMAD BIN ISA BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN AL-HUSEYN r.a. doa-nya sayidina Ibrahim a.s. yang tersurat dalam Al-Qur’an surat 14 ayat 37 dan dipilihnya Hadramaut yang tiada bertetanaman, untuk menetap dan berhijrahlah beliau dari Basrah ke Hadramaut, dimana beliau wafat di Hasisah pada tahun 345 H.

ALWI BIN UBAIDILLAH ALAWIYIN
Keturunan dari AHMAD BIN ISA tadi yang menetap di Hadramaut dinamakan ALAWIYIN; ini dari nama cucunya ALWI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD BIN ISA yang dimakamkan di Sumul.
Keturunan sayidina Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. disebut juga ALAWIYIN dari sayidina Ali bin Abi-Thalib k.w. Keluarga Al-Anqawi, Al-Musa-Alkazimi, Al-Qadiri dan Al-Qudsi yang terdapat sedikit di Indonesia adalah Alawiyin, tapi bukan dari Alwi bin Ubaidillah.

MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM
Luput dari serbuan Hulaku, saudara maharaja Cina, yang mentamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M.), yang memang telah dikhawatirkan oleh AHMAD BIN ISA akan kutukan Allah s.w.t., maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Thalib r.a. Ini ternyata pula hingga kini dari istilah-istilah dalam loghat orang Hadramaut. Dalam menjalankan ‘tugas suci’, ialah pusaka yang diwariskannya, banyak dari pada suku Alawiyin tiada segan mendiam di lembah yang tandus. Tugas suci ini terdiri dari mengadakan tabligh-tabligh, perpustakaan­perpustakaan, pesantren-pesantren (rubat) dan masjid-masjid. Alawiyin yang semula bermazhab “Ahlil-Bait” mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH melaksanakan suatu kompromis dengan memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi’I Al-Quraisyi, ialah yang kemudian disebut dengan mazhab Syafi’i. Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam ini wafat di Tarim pad atahun 653 H.

TUGAS SUCI (ISLAMISASI)
Alawiyin dalam menyebarkan agama Islam menyebrang ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand (Siam), Indonesia, Tiongkok (Cina), Filipina, dsb.

b. ALAWIYIN DI INDONESIA SEBELUM DIJAJAH BELANDA
Sebelumnya orang Barat datang, maka berkembanglah agama Islam dengan baik sekali dan terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Runtuhnya kerajaan Islam di semenanjung Iberia dalam abad ke XV M. dengan jatuhnya Al-Andalus (1492 M.), mengakibatkan pengejaran bangsa Spanyol terhadap Muslimin, pengejaran mana diberkati Paus Roma. Jika kehendak orang Spanyol menyeranikan, maka kehendak orang Portugis ialah berniaga dengan orang Muslim di Indonesia, dan oleh karena ini orang Portugis lebih memperoleh sukses. Sebab peperangan di Europa antara Spanyol sepihak dengan masing-masing Belanda dan Inggeris, maka kedua bangsa ini turut juga datang ke Indonesia. Kecerobohan dan keserakahan Barat senantiasa ditentang oleh kaum Muslimin di tanah air kita.

c. ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA JAJAHAN BELANDA
Dengan pelbagai tipu muslihat dan fitnah akhirnya Belanda disokong oleh negara­negara Barat lain, dapat menguasai Indonesia, dan ekonomi Belanda mulai berkembang pesat sesudahnya dapat dipergunakan kapal uap. Alawiyin dari pada awalnya jajahan Belanda mulai merasakan rupa-rupa kesulitan, oleh karena Belanda melihat bahwa Alawiyin-lah dalam segala lapangan menjadi pelopornya, baik di medan perang, maupun dalam bidang pengangkutan barang-barang lewat lautan atau bidang kebudayaan (agama). Dilarangnya Alawiyin menetap di pedalaman pulau Jawa, dilarangnya berkeluarga dengan anggauta istana (yang memang keturunan Alawiyin), hingga yang tiada mampu pindah ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau karena sebab lain, mengambil nama keluarga Jawa agar di-anggapnya orang Jawa asli, pribumi. Oleh karena pindahnya Alawiyin dari pedalaman ke bandar-bandar di pinggir laut, maka pula pusat ke-Islaman pindah ke utara seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, dst. Yang tidak dapat berpindah dari pedalaman, menetap di perkampungan-perkampingan yang disebut “kaum”. Suku-suku Alawiyin yang telah anak-beranak dan tiada mampu pindah ke kota-kota besar dan mengambil nama ningrat Jawa, ialah banyak dari pada Al-Basyiban, Al-Baabud, Al-Binyahya, Al-Aydrus, Al-Fad’aq dan lain-lain lagi. Dalam kenyataan demikian itu, Belanda baru mulai berusaha menyeranikan Jawa Tengah, dimana Islam tiada dapat berkembang oleh karena peperangan-peperangan melawan Belanda dan berhasilnya aneka fitnah yang Belanda ciptakan antara penguasa-penguasa pribumi sendiri. Anak Muslim tiada boleh bersekolah, sedangkan anak Keristen dapat pendidikan dan pelajaran modern. Kemudian di-izinkan bersekolah Belanda anak-anak orang yang berpangkat pada pemerintahan jajahan, dan diharuskan mereka tinggal (yakni in de kost) pada pejabat Belanda. Katanya agar dapat lancar berbicara bahasa Belanda dan mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberi dalam bahasa itu; sebetulnya untuk menjadikan kanak-kanak itu berfikir dan hidup secara orang Belanda, dan untuk mengasingkan mereka dari bangsanya sendiri, dari adat-istiadat dan agamanya. Anak rakyat biasa, awam, mengaji, baik pada madrasah-madrasah Alawiyin atau pesantren­pesantren. Hubungan Alawiyin dengan para kiyahi erat sekali. Untuk melumpuhkan berkembangnya agama Islam di-antara anak-anak rakyat jelata, Belanda mengadakan sekolah-sekolah Hollands-Inlandse School (H.I.S.) dengan syarat bahwa murid tiada boleh bersarong dan berkopya-pici, harus mengenakan celana pendek sampai atas lutut, pakaian mana bukan kebiasaan orang yang mendirikan salat. Jangan sampai kanak-kanak dapat membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama Islam yang tertulis dengan huruf Arab, Belanda mengajar dengan sungguh menulis dengan huruf latin, dan mengadakan buku­buku yang menarik dalam huruf ini, untuk maksud mana dibentuknya Balai Perpustakaan. Banyak buku-buku yang dikarang oleh pendeta dan padri, indolog dan orientalis, mengandung racun bagi anak murid yang pengetahuannya tentang Islam dan tarikhnya masih sangat dangkal. Alawiyin menolak tawaran Belanda untuk membangun Hollands-Arabise School (H.A.S.), dan menolak pula subsidi dari pemerintah jajahan bagi madrasah-madrasahnya, karena curiga dan takut dari tipu muslihat dan pengaruh Belanda yang berniat merusak agama Islam. Alawiyin tiada boleh mendirikan cabang­cabang madrasah di kota-kota besar dengan nama yang sama, oleh karena itu nama-nama madrasah yang sama skala pendidikannya, berlainan namanya. Para guru dari negara Islam didatangkan untuk mengajar di madrasah-madrasah, dan kanak-kanak yang berbakat dikirim melanjutkan pelajarannya ke Hadramaut, Hejaz, Istanbul, Kairo dan lain-lain.
Disamping perguruan, Alawiyin aktif juga di lapangan politik hingga beberapa orang ditangkap dan dipenjarakan. Melawan Belanda antara mana di Aceh, dan sesudah Aceh ditaklukannya, Muslimin hendak mengadakan pembrontakan di Singapura di kalangan tentara Muslimin India yang Inggeris hendak berangkatkan untuk berperang di Iraq (Perang Dunia I). Perlu juga diketahui bahwa Alawiyin senantiasa berhubungan dengan Muslimin di luar negri, orang-orang yang terkemuka dan berpengaruh, teristimewa dengan Padisyah, Khalifatul Muslimin di Istanbul, yang atas aduan Alawiyin pernah mengirim utusan rahasia untuk menyelidiki keadaan-keadaan Muslimin di Indonesia.

d. ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA PENDUDUKAN MILITER JEPANG
Pendudukan militer Jepang menindas dan mematikan segala kegiatan Alawiyin, terutama dalam bidang politik, perguruan tabligh, pemeliharaan orang miskin dan anak yatim. Perpustakaan yang tidak dapat dinilai harganya di-angkut Jepang, entah kemana. Semua kitab ada capnya dari Al-Rabitah Al-Alawiyah yang berpengurus-besar hingga kini di Jalan Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 17. Jakarta Pusat (II/24).

e. ALAWIYIN DI INDONESIA SETELAH MERDEKA
Pemudan Alawiyin turut giat melawan Inggeris dan Belanda (Nica), bergerilya di pegunungan. SEMUA PEMUDA ALAWIYIN ADALAH WARGANEGARA INDONESIA dan masuk berbagai partai Islam. Dalam lapangan ekonomi mereka sangat lemah hingga kini belum dapat merebut kembali kedudukannya seperti sebelumnya pecah perang dunia ke-dua, dengan lain kata, jika Alawiyin sebelumnya Perang Dunia ke II dapat membentuk badan-badan sosial seperti gedung-gedung madrasah, rumah yatim piatu, masjid-masjid dan membayar guru-guru yang cakap, maka sekarang ini dengan susah payah mereka membiayai pemeliharaannya dan tidak dapat lagi memberi tenaga guru-guru sepandai dan secakap yang dahulu, meskipun kesempatan kini adalah lebih baik dan pertolongan pemerintah ala qadarnya. Kegiatan bertabligh tetap berada di tangan para kiyahi dan Alawiyin yang tersebar di pelosok-pelosok kepulauan Indonesia. Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap dicintai dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat sebagaimana juga di negara Islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin di-ikuti dalam perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya. Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000 orang; ada banyak yang besar, antara mana Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habasyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-Haddad. Dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Daimi yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul­alawiyin yang berpusat di gedung “Darul Aitam”, Jalan K.H. Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 47, Jakarta Pusat (II/24).

NASAB (SILSILAH)

Semua nasab terputus, kecuali nasabku….. (Al-Hadith).
ADAM adalah ayah Syith, dan Syith ayah Anusy, dan Anusy ayah Qinan, dan Qinan ayah Mahalail, dan Mahalail ayah Yarid, dan Earid ayah IDRIS alias Akhnukh, dan Idris ayah Matusylakh, dan Matusylakh ayah Lamak, dan Lamak ayah NUH.

BANI SAM
NUH adalah ayah SAM, dan Sam ayah Arfakhsyad, dan Arfakhsyad ayak Syalakh, dan Syalakh ayah Abir, dan Abir ayah Falagh, dan Falagh ayah Arghu, dan Arghu ayah Syarukh, dan Syarukh ayah Nakhur, dan Nakhur ayah AZAR alias Terah, dan Azar ayah IBRAHIM.

BANI ISMAIL
IBRAHIM adalah ayah ISMAIL, dan Ismail ayah Qidar, dan Qidar ayah Hamal, dan Hamal ayah Banat, dan Banat ayah Salaman, dan Salaman ayah Humaysa’, dan Humaysa’ ayah Adad, dan Adad ayah Ad, dan Ad ayah ADNAN, ADNAN adalah ayah Maad, dan Maad ayah Nizar, dan Nizar ayah Mudhar, dan Mudhar ayah Ilyas, dan Ilyas ayah Mudrikah, dan Mudrikah ayah Khuzaimah, dan Khuzaimah ayah Kinanah, dan Kinanah ayah Al-Nadhr, Al-Nadhr ayah Malak, dan Malak ayah Fihr alas QURAISY.

QURAISYIUN
FIHR ayah Ghalib, dan Ghalib ayah Lu’ay, dan Lu’ay ayah Kaab, dan Kaab ayah Murrah, dan Murrah ayah Kilab alias Hakim, dan Kilab ayah Qusay alias Mujami’, dan Qusay ayah Abdimanaf, dan Abdimanaf ayah HASYIM.

BANI HASYIM
HASYIM adalah ayah Abdulmuttalib, dan Abdulmuttalib ayah Abdullah dan Abu Talib.
Abdullah adalah ayah NABI MUHAMMAD s.a.w. (wafat di Madinah 11 H.), dan NABI MUHAMMAD s.a.w. ayah FATIMAH Al-Zahra r.a. (wafat di Madinah 11 H.). Abu Talib adalah ayah IMAM ALI k.w. (wafat di Kufah 40 H.). FATIMAH dan ALI (s.a.) adalah ibu dan ayah AL-HASAN dan AL-HUSEYN s.a. (wafat di Kerbela 61 H.).

AL-HUSEYNIYUN
AL-HUSEYN adalah ayah Ali Zeynal-Abidin (wafat di Madinah 94 H), dan Ali Zeynal-Abidin adalah ayah Muhammad Al-Baqir (wafat di Madinah 119 H), dan Muhammad Al-Baqir ayah Ja’far Al-Sadiq (wafat di Madinah 148 H), dan Ja’far Al-Sadiq ayah Ali Al-Uraidhi (wafat di Uraidh 215 H), dan Ali Al-Uraidhi ayah Muhammad Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Muhammad Al-Naqib ayah Isa Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Isa Al-Naqib ayah Ahmad Al-Muhajir (wafat di Hasisah 345 H), dan Ahmad Al-Muhajir ayah Abdullah alias Ubaidillah (wafat di Ardh 383 H), dan Abdullah ayah Alwi (wafat di Sumul), dan dari Alwi berasal suku-suku ALAWI

DAFTAR ANAK-SUKU ALAWIYIN DI INDONESIA

1 Al-Ahmad Hamid Munfar 39. Al-Sumeyt
2 -Ba Abud 40. -Saqqaf
3 -Ba Ali 41. -Sakran
4 -Ba Aqil Al-Saqqaf 42. -Safi
5 -Ba Bareyk 43. -Masyhur
6 -Ba Faqih 44. -Maula Al-Dawilah
7 -Ba Faraj 45. -Maula Khailah
8 -Ba Harun 46. -Mudhar
9 -Ba Hasyim 47. -Mudhir
10 -Bahr 48. -Munawwar Al-Saqqaf
11 -Ba Huseyn 49. -Muqaibil
12 -Baiti 50. -Musawa
13 -Balakhi 51. -Muthahar
14 -Bar 52. -Wahth
15 -Barakwan 53. -Haddar
16 -Ba Raqbah 54. -Hadi
17 -Ba Syiban 55. -Hinduan
18 -Ba Surrah 56. -Sri
19 -Ba Umar 57. -Syatri
20 -Bilfaqih 58. -Syihab
21 -Bin Abbad 59. -Syaikh Abubakr
22 -Bin Ahsan 60. -Aidid
23 -Bin Qutban 61. -Aqil Bin Salim
24 -Bin Sahl 62. -Attas
25 -Bin Syuaib 63. -Aydarus
26 -Bin Thahir 64. -Fad’aq
27 -Bin Yahya 65. -Fakhr
28 -Barum 66. -Qadri
29 -Bu Futim 67. -Jufri
30 -Bu Numay 68. -Junaid
31 -Taqawi 69. -Habasyi
32 -Jailani 70. -Haddad
33 -Jamal Al-Lail 71. -Kaf
34 -Hamid 72. -Madeyhiy
35 -Hasni 73. -Maghrabi
36 -Khaneyman 74. -Mahdali
37 -Khird 75. -Marzaq
38 -Zahir –

DAFTAR PERPUSTAKAAN

BERG, L.W.C. van den – “LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L’ARCHIPEL INDIEN” – Batavia, 1886.

AL-HADDAD, Sajed Alwi b. Taher, Mufti Kerajaan Johor Malaya – “SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI TIMUR JAUH” – Maktab Addaimi, Jakarta, 1957.

HARAHAP, A. Salim – “SEJARAH PENYIARAN ISLAM DI ASIA TENGGARA” – Cetakan ke-dua, Penerbit “Islamiyah”, Medan 1951.

SALEEBY, Najeeb M. – “THE HISTORY OF SULU” – Manila, 1963

Risalah Seminar “SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA” – Diterbitkan oleh Panitia Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, Maret, 1963.

Penjelasan atas MASALAH GELAR SAYID, Oleh Prof. Dr. HAMKA

H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H. A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.
Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui PANJI MASYARAKAT, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata.
Melihat adanya korelasi dengan buku kami ini, dan setelah mendapat izin dari Saudara Rusydi Hamka, Pemimpin Redaksi/Penanggung-jawab Panji Masyarakat, maka apa yang kami kutip terbatas pada masalah tersebut dijudul saja.

Penulis

YANG pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi Muhammad s.a.w. tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaltsum mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.

Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu adalah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharapkan anak-anak Fathimah inilah yang menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku’ si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau Khutbah, si cucu duduk ketingkat pertama tangga mimbar.

Al-Tarmidzi merawikan dari Usamah bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk diatas kedua paha beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: “Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan. Aku sayang kepada keduanya”.
* Lihat majalah tengah-bulanan “PANJI MASYARAKAT” No. 169/tahun ke-XVII – 15 Februari 1975 (=4 Shafar 1395 H.), halaman 37-38.

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan: “Anakku ini adalah SAYYID (Tuan); moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih”.
Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai “Tahun Persatuan”. Pernah pula beliau berkata: “kedua anakku adalah SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga kelak”.
Barangkali ada yang bertanya: “Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain adalah cucunya, mengapa dikatakan anaknya?”

Ini adalah pemakaian bahasan pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Didalam Al-Qur’an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa Nabi Ya’kub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni’matnya kepada puteranya Yusuf,” sebagaimana telah disempurnakan-Nya ni’mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak”. – Pada hal yang bapa, atau ayah dari Yusuf adalah Ya’kub. Ishak adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayaknya. Diayat 28 Yusuf berkata: “Bapa-bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya’kub”. Artinya nenek-nenek moyang disebut bapa dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormat mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum Muslimin.
BAGI ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan “kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga”. Disetengah negri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran – Penulis) kaum Syi’ah yang berlebih­lebihan. Apatah lagi di dalam Al-Qur’an, surat ke-33 “Al-Ahzab”, ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya berlipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri­-isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunanya.

MENJAWAB pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w.? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini, sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun Kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negri Pontianak pernah diperintah Bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka menjadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang banyak kita kenal adalah keluarga Alatas, Assagaf, Alkaf, Bafagih, Balfagih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, AlHaddad, bin Smith, bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghathmir, bin Aqil, Alhadi, Basyaiban, Bazar’ah, Bamakhramah, Ba’abud, Syaikhan, Azh-Zhahir, bin Yahya, dan lain-lain. Yang menurut keterangan Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari ‘Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Bin Muhammad Al-Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi Bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Ali Bin Abi Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak Fathimah binti Rasulullah s.a.w.

Sesungguhnya yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadhramaut itu, ada juga keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-syarif Mekkah Abi Numay, tapi tidak sebanyak dari Hadhramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar diseluruh dunia. Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilah sampai ke Sayidina Ali dan Fathimah.
DALAM pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan ‘Alawy atau bukan, dengan pimpinan A.R. Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan “Al-Akh”, artinya Saudara.

Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad Bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cintanya orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalah gunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah s.a.w.: “Janganlah sampai orang lain datang kepadaku dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu”. Dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: “Hai Fathimah binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu di hadapan Allah sedikitpun”. Dan pernah beliau bersabda: “Walau anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya”.

Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan ‘Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS